Posts

Kebebasan dan Pembebasan Berpikir

Eksistensialisme menurut Jean Paul Sarte

  E ksistensialisme merupakan paham yang menempatkan manusia pada titik vital dari segala kemanusiaan. Eksistensialisme berawal dari upaya manusia untuk bangkit dari segala hegemoni untuk menemukan eksistensi dan sebuah keberadaan diri. Untuk menemukan Eksistensi atau ke-adaan diri manusia harus memiliki refleksi diri atau menyadari keberadaannya, hal ini dikarenakan tidak ada makhluk lain yang bereksistensi selain keberadaan manusia. Sarte dalam hal ini menempatkan eksistensi sebagai manusia mendahului esensi. Eksistensi pada esensinya menunjukan eksistensi kesadaran manusia (l etre-pour-soi), karena manusia berhadapan dengan dunia dimana dia berada sekaligus memikul tanggung jawab untuk dirinya dan masa depan dunianya. Kebebasan adalah esensi manusia, biasanya manusia yang bebas selalu menciptakan dirinya. Manusia yang bebas mengatur, memilih, dan dapat memberi makna pada realitas.     Secara etimologi, Eksistensialisme berasal dari kata eksistensi, bera wal  dari ...

Bangsa yang mengingat

OrBa bukanlah rezim individual dalam satu tangan orang, melainkan kumpulan kekuatan negara dan sosial yang saling bersinergi untuk membangun sebuah sistem politik masif nan otoriter. Pemahaman historis ini mulai hilang dibenak publik seiring berjalannya waktu, OrBa menyelinap dengan senyap ke dalam demokrasi Indonesia yang sudah lebih transformatif. Alhasil, sadar atau tidak kultur OrBa yang hadir dalam dinamika demokrasi negara hari ini mulai menunjukan gelagatnya seperti 23 tahun silam. Indonesia pasca reformasi menjadi ahistoris sehingga dalam kancah politik sebagian publik lebih asik bergelayut dalam ranah eksistensial-personal daripada historis-intelektual. Oleh sebab itu, tak mengherankan bila dalam situasi politik hari ini keberpihakan pada oknum politik tertentu lebih besar dari pada berpikir kritis-historis. Ini menandakan bahwa kita sebagai sebuah bangsa sulit mengingat, khususnya narasi yang buruk dan traumatis. menolak lupa tapi rada lupa

Dikotomi Kanan-Kiri

Sebelum saya mengutarakan pandangan. Sekali lagi, saya bukanlah manusia-manusia yang memiliki kapasitas lebih, ini tidak lebih dari sebuah sudut pandang pragmatisme seorang saya sebagai salah satu dari sekian banyak kaum pemikir "pinggiran". dan masih tetap bukan sebuah komponen kecil dari mesin mekanis birokrasi. ini hanya sekedar opini dari sudut pandang yang mungkin akan banyak antithesis untuk membantah tulisan bukan ilmiah ini. sebelum memulai dikotomi kanan-kiri saya akan menganalogikan sedikit perjalanan pemikiran ideologis saya sebagai seorang yang aktif sebagai pemikir jalanan dalam ruang-ruang yang saya sebut pinggiran. Analoginya begini, ketika kita mengendarai kendaraan di ruas tol yang memiliki banyak marka selalu ada pilihan ruas jalan untuk kita lalui, dan ketika dihadapkan pada lalu lintas yang padat hanya ada satu ruas jalan yang kosong yaitu ruas kiri. diperuntuhkan untuk keadaan darurat, tempat pemberhentian dan tidak diperkenankan melintasi ruas kiri sebag...

Filosofi Stoisisme / Filsafat Teras

T eras K ehidupan manusia merupakan makhluk sosial yang bisa hidup sendiri, sehingga dalam setiap dimensi perilaku dilingkungan sosial sangat membutuhkan adanya peran orang lain. makna tersebut diartikan oleh Aristoteles sebagai zoon politicon atau animal society yang bermakna makhluk sosial. manusia tidak dapat hidup sendiri melainkan membutuhkan peranan orang lain untuk berinteraksi, proses tersebut memiliki tujuan tertentu yakin memenuhi kebutuhan sosial dirinya sendiri maupun masyarakat. egoisme manusialah yang melahirkan dampak merugikan bagi masyarakat disekitar dimana dia hidup. sebagaimana Glaucon dalam buku republika karya Plato menyebutkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas. dengan kehendak bebas tersebut, orang merasa senang untuk melakukan tindakan yang sama kepada dirinya sendiri. oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah konvensi untuk melalhirkan sebuah hukum, ia juga menyatakan bahwa hukuk dan moralitas lahir dari kovensi yang dilakukan oleh manusia, dan negara merupakan has...

Kebebasan Berpikir

Dengan menggunakan kriteria apapun tentang apa itu intelektual atau kaum pemikir, saya bukanlah salah satu manusia yang memiliki kapasitas . kapasitas saya hanyalah bagian kecil dari seorang "pesuruh" ditengah-tengah masyarakat. Dengan begitu maka tak ada rasa salah (guilty feeling) sedikitpun untuk berapologi bahwa tulisan ini bukanlah sebuah karya yang dalam ukuran akademis disebut sebagai karya "ilmiah". Karena kapasitasnya hanyalah soerang pesuruh, maka mustahil bagi saya untuk dapat menulis secara ilmiah. Lagi pula dalam kehidupan birokrasi yang pragmatik amatlah sulit bagi saya untuk berpikir kompilatif, sebagaimana layaknya para intelektual. Dalam struktur mesin rekayasa yang disebut birokrasi, keberadaan saya tidaklah bermakna apa-apa, bahkan tidak lebih dari sebuah "sekrup" kecil yang tak berpengaruh dan tak berdaya apa apa ketika berhadapan dengan "mekanisme" birokrasi . Justru sebaliknya dalam ekologi dan kultur birokrasi, saya tidak l...