Filosofi Stoisisme / Filsafat Teras

Teras Kehidupan

manusia merupakan makhluk sosial yang bisa hidup sendiri, sehingga dalam setiap dimensi perilaku dilingkungan sosial sangat membutuhkan adanya peran orang lain.

makna tersebut diartikan oleh Aristoteles sebagai zoon politicon atau animal society yang bermakna makhluk sosial. manusia tidak dapat hidup sendiri melainkan membutuhkan peranan orang lain untuk berinteraksi, proses tersebut memiliki tujuan tertentu yakin memenuhi kebutuhan sosial dirinya sendiri maupun masyarakat. egoisme manusialah yang melahirkan dampak merugikan bagi masyarakat disekitar dimana dia hidup.

sebagaimana Glaucon dalam buku republika karya Plato menyebutkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas. dengan kehendak bebas tersebut, orang merasa senang untuk melakukan tindakan yang sama kepada dirinya sendiri.

oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah konvensi untuk melalhirkan sebuah hukum, ia juga menyatakan bahwa hukuk dan moralitas lahir dari kovensi yang dilakukan oleh manusia, dan negara merupakan hasil dari konvesi manusia itu sendiri untuk melindungi kepentingan yang ada didalamnnya. seperti mengamini apa yang disampaikan dalam buku republika, aristoteles juga memandang hal yang serubpa. namun dia tidak serta merta mempercayai sebuah argumentasi apabila tidak ditemukan kebenarannya terlebih dahulu.

 

kira-kira 300 tahun sebelum masehi (sekitar 2.300 tahun yang lalu), seorang pedagang kaya dari siprus (sebuah pulau di selatan turki) bernama Zeno melakukan perjalanan dari Phoenicia ke Peiraeus dengan kapal laut melintasi laut Mediterania. Zeno membawa barang dagangan khas Phoenicia, yaitu semacam pewarna tekstil berwarna ungu yang sangat mahal, yang sering dipakai untuk mewarnai jubah raja-raja. pewarna ini dibuat dari ekstrak siput laut dan proses pembuatannya sangat melelahkan, karena ribuan siput laut ini harus dibuka dengan tangan hanya untuk mendapatkan beberapa gram ekstrak pewarna. karenanya tidak heran barang ini sangat berharga mahal dan bernilai tinggi.

malang tidak bisa ditolak kapal yang ditumpangi Zeno pun karam. Zeno tidak hanya kehilangan barang berharganya yang sangat mahal, tetapi juga harus terdampar di Athena. ini tentunya sebuah cobaan yang besar, tidak hanya kehilangan harta benda tetapi juga harus hidup luntang lantung di kota yang bukan rumahnya.

suatu hari di Athena, ia pergi mengunjungi sebuah toko buku dan menemukan sebuah buku filsafat yang menarik hatinya. ia bertanya kepada pemilik si toko buku, dimana kebetulan melintaslah Crates, seorang filsuf aliran synic, dan menjual buku kepadanya. Zeno pun pergi mengikuti Crates untuk belajar filsafat darinya.

Zeno kemudia belajar dari berbagai filsuf yang berbeda, dan kemudianpun ia mulai mengajar filosofinya sendiri. ia senang mengajar disebuah teras berpilar (dalam bahasa yunani disebut stoa) yang terletak disisi utara agora (tempat publik yang digunakan untuk berkumpul dan berdagang). sejak itu pengikutnya disebut kaum stoa.

 

bahagia ala stoa/stoic/stoisisme

kenapa harus stoic? saya rasa ini adalah jalan petunjuk untuk mencapai kebahagiaan dalam diri dan menemukan arti dari setiap permasalahan yang datang, karena setiap permasalahan dan cobaan yang datang mengajarkan kita banyak hal tentang suatu yg terjadi pada diri kita, tentang apa yang telah terjadi dan bagaimana kita mampu untuk berdamai dengan suasana yang terjadi ketika masalah sudah menghampiri. bisakah berbahagia dalam kehidupan setelah melalui banyak masalah yg sudah terjadi?

saya rasa ini tentang bagaimana banyak hal hal yang saya lalui tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan, sehingga yang timbul dalam diri saya hanyalah kekecewaan dan rasa trauma yang tersisa. saya dikecewakan dengan pengharapan yg tidak sesuai dengan ekpektasi hingga fase puncaknya saya banyak menyalahkan keadaan dan orang lain bahkan yg terparah adalah saya menyalahkan tuhan, kenapa hal ini terjadi kepada saya meskipun saya tahu bahwa hal ini bisa saja terjadi kepada siapapun mungkin dengan kasus yang sama atau bahkan lebih berat .

Kisah lahirnya filosofi teras selalu dikaitkan dengan kisah zeno dari citium. bisa dikatakan filosofi teras dilahirkan dari sebuah bencana, minimal bagi zeno yang harus mengalami kapal karam jauh dari tempat tinggalnya dan terpaksa tinggal ditanah asing. namun bencana prribadi itu berubah menjadi titik kehiduoan yang penting, karena dari situ zeno mempelajari filsafat dan akhirnya mendirikan sekolah pemikirannya sendiri yang bertahan selama lebih dari 2.000 tahun.

 

ada yang mengatakan bahwa stoisisme adalah defensive philosophy, sebuah filosofi yang terlalu menekankan pada 'membela diri' terhadap kemalangan dan penderitaan tidak memberikan banyak formula untuk kebahagiaan.

 

setiap manusia mencari kebahagiaan, hidup yang tenang. filsafat bagi kaum stoa/stoic bukanlah untuk sekedar mengisi waktu dan menumpuk ide untuk bergaya didepan kaum awam. filsafat adalah praktik dan latihan (askesis), sebuah seni hidup.

 

dimata stoa bahagia itu sederhananya adalah manakala kita terbebas dari emosi atau segala rasa perasaan yang mengganggu. orang yunani menyebutnya pathos (dari kata kerja paskhein, artinya mengenai atau menderita sesuatu)

 

lewat latihan-latihan konkret filsafat stoa hendak menolong kita dari hasrat eksesif. bagaimana caranya kita bahagia?, terhindar dari rasa campur aduk yang memporakporandakan batin? bagaimana bisa tenang? filsafat stoa mengajarkan kita untuk menjauhkan empat jenis emosi negatif yang menjauhkan kita dari kebahagiaan (ketenangan batin) yaitu iri hati, takut, rasa sesal atau pahit, dan kesenangan (kenikmatan).

insight tajam kaum stoa memberitahu kita bahwa emosi negatif bukanlah "perasaaan liar" bukan pula "hal irasional" yang tidak bisa dijelaskan asal-usulnya, emosi adalah bagian dari rasio. emosi negatif adalah opini yang mengatakan bahwa sesuatu itu buruk sehingga muncul rasa sesal dan rasa takut atau opinin yang mengatakan bahwa sesuatu itu baik sehingga ada rassa senang dan menginginkannya.

seringkali saya tersesat didalam pikiran dan opini saya sendiri, menjadikan saya orang yang cukup negatif dalam menilai sebuah objek pikiran saya.

 

filosofi teras mengarahkan kita betapa pentingnya untuk tidak menaruh harapan dan kebahagiaan pada hal hal diluar kendali kita. karena hal hal yang berada dibawah kendali kita bersifat merdeka artinya adalah pikiran kita sebagai seorang manusia dan lebih mudah diatasi.

 

berikut adalah contoh hal yang ada dibawah kendali kita:

- pertimbangan, opini, dan persepsi kita sendiri

- keinginan kita

- tujuan kita

- segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri

 

hal yang tidak dibawah kendali kita :

- tindakan orang lain

- opini orang lain

- persepsi orang lain

- kesehatan, kekayaan, reputasi dan perasaan orang lain

 

filosofi teras/stoa/stoisisme mengajarkan kita "ngapain bahagia untuk sesuatu yang sewaktu-waktu bisa hilang?" dan selalu ada bagian didalam diri kita yang merdeka, yaitu pikiran dan persepsi. sikap dan persepsi kita ada sepenuhnya dibawah kendali kita.

 

Tirani opini orang lain

mari kita membahas salah satu dari 'hal diluar kendali' menurut stoisisme, yaitu opini/pendapat orang lain. entah sadar atau tidak, berapa banyai dari kita yang terus menerus mengikuti pendapat orang lain "apa kata orang" adalah ucapan yang sereing kita dengar. bagi kita yang hiduo diindonesia tekanan dari orang lain adalah sesuatu yang nyata.

 

dalam beberapa kesempatan dan beberrapa kasus sebenarnya bukan dirimu yang memiliki masalah dengan orang lain atau lingkungan di luar dirimu, pikiranmu lah yang sedang bermasalah.

 

dengan memahami dikotomi kendali kita belajar ikhlas dan tidak meresahkan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan dan memfokuskan energi pada hal hal yang bisa kita kendalikan. kita belajar mengendalikan interprestasi atas semua kejadian didalam hidup kita. sehingga kita tidak menjadi reaktif terus terhadap situasi, bagai sekoci tak berdayung dilautan lepas.

 

seperti yang dikatakan Marcus Aurelius yang bisa menjadi dasar untuk gratitude jurnal 'jangan mimpiin sesuatu yang kamu gak punya, tapi reflect the greatest blessing that you have'

 

'jangan engkau menggunakan alasan untuk berduka secara berlebihan karena berduka tak henti atas kehilangan seseorang tercinta sesungguhnya hanyalah keegoisan yang bodoh sebaliknya tidak merasakan duka sama sekali adalah tak berhati jalan tengah terbaik antara kasih sayang dan akal sehat adalah untuk merasakan kehilangan dan disaat yang sama menakhlukannya'

 

kemarahan kita lebih merusak daripada perlakuan yang kita terima. pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, persepsi kita. keduanya terkait, dan jika ada emosi negatif sumbernya ya nalar kita sendiri.

 

Kekuatan pertimbangan (judgment) dan persepsi

senada dengan Epictetus, Marcus Aurelius menulis "jika kamu merasa susah karena hal eksternal, maka perasaan susah itu tidak datang dari hal tersebut, tetapi oleh pikiran/persepsimu sendiri. dan kamu memilki kekuatan untuk mengubah pikiran dan persepsimu sendiri kapanpun juga"

kamu memiliki kekuatan untuk mengubahnya, kapanpun juga! Marcus Aurelius melanjutkan ucapan Epictetus, bahwa kita harus menyadari semua rasa susah, khawatir, cemas, iri hati, dan lain-lain datangnya dari pikiranmu sendiri. kabar baiknya, sebenernya kita mampu mengubah pikiran/persepsi kita (tanpa mengubah peristiwa eksternal yang terjadi).

ininlah yang dimaksud oleh stoisisme bahwa kebahagiaan sejati dari hal-hal yang bisa dikendalikan. yaitu, pikiran, persepsi dan pertimbangan kita sendiri. kebahagiaan tidak perlu bergantung pada hal-hal eksternal.

 

oleh karena itu ketika kita sedang dihadapkan dengan situasi dan kondisi dimana kita marah, cemas, khawatir dan emosi negatif lainnya maka dalam filosofi teras dikenal istilah STAR (stop, think, dan asses, respond)

 

-Stop (berhenti) begitu kita merasakan emosi negatif secara sadar kita harus berhenti terlebih dahulu jangan terus larut dalam perasaan tersebut.

-Think dan asses (dipikirin dan dinilai) sesudah menghentikan proses emosi sejenak, kita bisa aktif berfikir, memaksakan kita untuk berpikir secara rasional saja sudah mampu mengalihkan kita dari kebablasan mengikuti emosi. kemudian mulailah menilai (assess), apakah perasaan saya ini bisa dibenarkan atau tidak? apakah kita telah memisahkan fakta objektif dari interpretasi/value judgement kita sendiri? apakah emosi saya ini terjadi karena sesuatu yang ada didalam kendali saya atau diluar kendali saya?

-Respond sesudah kita menggunakan nalar, berupaya untuk rasional dalam mengamati situasi dan semoga saat ini emosi sudah sedikit turun barulah kita memikirkan respon apa yang akan kita berikan, respon bisa dalam bentuk ucapan atau tindakan. karena pemilihan respon tersebut datang sesudah kita memikirkan situasinya baik-baik, diharapkan tindakan dan respon ini hasil penggunaan nalar/rasio yang sebaik baiknya dengan prinsip bijak, b adil (fair), menahan diri (tidak terbawa perasaan/emosi)

 

dalam memahami berbagai kasus dan permasalahan yang terjadi pada diri kita perlu dipahami, bahwa setiap masalah yang terjadi dapat diselesaikan dengan mudah apabila kita selalu bernalar secara rasional dan tenang.

selanjutnya adalah melawan pola pikir yang destruktif

dalam mengalami kesusahan dan kesulitan dalam kehidupan ada pola pikir yang merusak yang harus kita lawan. dengan menerapkan pola pikir 3p menurut psikolog Martin Seligman bisa menghambat kita untuk pulih dari musibah atau kesulitan. yaitu :

-Personalization, menjadikan musibah sebagai kesalahan pribadi

-Pervasivines, menganggap musibah disatu aspek hidup sebagai musibah diseluruh aspek hidup

-Permanence, keyakinan akibat ebuah musibah/kesulitan akan dirasakan terus menerus

harus diperhatikan bahwa pola 3p ini bukanlah merupakan fakta melainkan ilusi pikiran destruktif semata dan merusak didalam kepala kita sendiri

 

menerima penderitaan

kita selalu diingatkan oleh filosofi stoisisme bahwa apa yang kita sebut sebagai 'bencana' 'musibah' dan kesulitan lainnya adalah konstruksi mental yang kita bangun sendiri, apa bila pemikiran itu tidak kita bangun dalam pola pikir dan menjadikan opini yang negatif maka kita bisa terhindar dari tindakan-tindakan yang merugikan kita sendiri.

stoisisme melihat peristiwa apapun itu sebagai sebuah fakta objektif. makna dari peristiwa itu datang dari diri kita sendiri dan karenanya kita punya pilihan kendali memaknai sebagai hal buruk.

 

latihan menderita

premeditatio malorum melatih kita untuk memikirkan skenario-skenario buruk yang mungkin terjadi hari ini, selain simulasi mental, stoisisme juga menganjurkan latihan menderita dalam hidup kita, secara rutin. latihan apes ini benar benar dalam arti liberal, artinya kita memaksa diri kita menderita secara fisik. ini mengingatkan saya dengan perkataan Seneca (letters)- jika kamu ingin seseorang tak goyahsaat krisis menghantam, maka latihlah ia sebelum krisis itu datang. Seneca menganjurkan kita untuk berlatih apes dengan sengaja untuk memulai pola hidup yang tidak biasa seperti mengkonsumsi makanan yang sederhana, menggunakan pakaian sederhana dan tidur menggunakan alas yang keras. dengan melatih hidup susah maka akan timbul rasa bersyukur dengan kehidupan normal yang biasa dijalani, selain itu latihan ini bertujuan untuk mengantisipasi kehidupan yang penuh dengan ketidak pastian. dengan begitu, kita akan lebih tangguh dalam menghadapi kehidupan dengan kondisi apapun.

 

CBT (cognitive behavioral theraphy)

CBT = pendekatan dalam psikologi yang menggabungkan tekhnik cognitive theraphy dan behavior theraphy.

cognitive theraphy percaya bahwa respon (emosi/perilaku) kita sumber utamanya adalah pikiran, umumnnya adalah pikiran yang irasional salah atau keliru.

 

kalau pendekatan behavior umumnya memiliki perasan bahwa untuk meminimalkan dan mengurangi perilaku harus dengan reinforcement/punishment, asumsinya adalah CBT perubahan perilaku dapat mengubah pola pikirmu, perubahan pola pikir juga dapat berpengaruh terhadap cara berpikir.

 

jika dikatakan kita harus bisa menerima apa yang bisa dikendalikan oleh kita dan apa yang tidak bisa dikendalikan oleh kita, apakah itu sehat?

menurut saya itu sehat, dalam teori stress ada yang namanya coping stress, cara untuk menangani stress ada dua cara yaitu problem-focused coping dan emotional-focused coping. problem focused misalnya punya dosen killer, apa yang bisa kita lakukan supaya dosen itu tidak killer? atau supaya kita bisa mendapat nilai bagus walaupun dosennya killer? artinya dalam problem solving kita melakukan sesuatu yang masih didalam kendali kita. emotion focused coping biasanya hanya mengatasi emosi kita. contohnya diagnosis terminal illness. apa yang bisa saya lakukan misal tak ada lagi yang bisa saya lakukan selain berdoa. doa adalah emotion focused coping. berguna saat tidak ada lagi yang bisa kita lakukan disebuah situasi.

 

manusia adalah makhluk sosial para ilmuan dari berbagai disiplin ilmu sudah meyakini itu. kemampuan bahasa yang dimiliki spesies kita diduga berevolusi dari kebutuhan berkomunikasi antar manusia. karena dengan berkomunikasi kita dapat berkoordinasi untuk bersama sama bertahan hidup. kemudian perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengantarkan kita masuk ke revolusi industri. akhirnya sampai dimasa sekarang di era informasi dan digital dimana kita senang berbagi informasi. semua ini adalah cerminan paling mendalam dalam diri kita untuk terhubung dengan manusia lain. sejak 2.000 tahun yang lalu, para filsuf stoa sudah meyakini nature manusia yang harus hidup sebagai makhluk sosia. dalama meditations, marcus aurelius berkata "semua manusia diciptakan untuk satu sama lain".

 

kalau ditanya apa masalah terbesar manusia, jawabannya ternyata pendek, yaitu 'Ego' adalah kesadaran yang terpisah. seperti tetesan air yang terpisah dari samudera dan tidak menyadari bahwa ia bukan hanya masih terhubung, melainkan juga mengandung seluruh hal yang ada di samudera tsb. rendahkan egomu agar egoisme tidak mengalahkan dirimu, merendahlah sampai tak ada seorangpun yang mampu merendahkan juga merendahkan egomu, bila tidak ada lagi sisi egosentris dalam dirimu maka tak mungkin lagi ada bagian yang tersinggung.

bila seseorang sudah tiarap, siapa yang mampu menjatuhkannya.

 

mempersempit rasa bersyukur

kita harus mempersempit rasa bersyukur pada dimensi yang lebih dalam, bersyukur dengan membandingkan dengan apa yg kita miliki dengan orang lain yang belum atau tidak memiliki mungkin adalah jenjang awal.

pada tingkat berikutnya, kita meninggalkan perbandingan dan mulai terfokus pada diri sendiri, kita bersyukur apa bila yang kita harapkan terjadi, namun tidak mengeluh apabila keinginan tidak berjumpa dengan realitas. bersyukur pada apa yang kita punyai adalah bersyukur pada apapun yang terjadi diluar atau didalam. bila kita hanya fokus pada diri sendiri tanpa menyalahkan apapun dan siapa pun maka hati akan memiliki kemampuan menampung masalah yang lebih besar dan kuat.

 

hidup ini seperti film sinema dean rolnya selalu berjalan, berganti, sementara pikiran kita mirip seperti foto yang hanya menangkap sebuah momen dan diam. benda apapun dan siapapun yang hadir dan disuatu saat pasti lenyap. bila kita tidak meninggalkan maka kita yang meninggalkan benda atau orang tersebut. masalalu menjadi berharga bila kita menerima sepenuhnya serta mengambil pelajaran darinya dan ia menjadi derita bila kita menolak dan membuang muka darinya. kita terlahir dengan ego yang sangat tipis dan melihat semua apa adanya. kemudian, kita dididik memisahkan benar dan salah, kita didorong kearah yang baik dan meneghindar yang salah.

 

bagaimana awalnya bertemu dengan stoisisme?

beberapa waktu yang lalu, saya sedang membahas 'spirituality' kami biasa berkutat pada filsafat-filsafat kognitif seperti marxisme, dialegtika, renaissance. kemudian, suatu saat kami membahas apakah ada yang hilang jika tidak ada spirituality. kami membahas alternatif (spiritualitas) selain devinity (ke Tuhanan), dan mungkin salah satu alternatif itu datang dari filsafat. maka muncullah stoisisme itu. kami memang tidak membahas secara dalam, tapi saya penasaran, kemudian search di google dan saya menangkap sebagai filsafat self-control. menakhlukan diri sendiri. itu yang saya tangkap, diskusi bagaimana jika filsafat membahas sisi emosional manusia, bukan kognitif, ini melengkapi topik liberalisme, karena ketika kita memberikan kebebasan pada individu, maka individu tersebut harus bisa mengelola dirinya dalam kebebasan itu. dan stoisisme memberikan cara untuk menakhlukan diri lo sendiri dalam kehidupan antarmanusia.

 

apakah prinsip stoisisme yang suka diterapkan?

ada peribahasa "10% masalah dalam hidup kita adalah masalah itu sendiri, 90% adalah how we react to the problem" dan jika 90% dari masalah hidup adalah reaksi kita sendiri, maka kitalah yang harus belajar bagaimana bereaksi pada masalah itu. dan stoisisme memberikan cara bagaimana kita bereaksi dengan "inner calm", dan ekspresinya tidak perlu dengan murka, marah-marah, serta lebih fokus pada mencari solusi.

 

 

 

Comments