Dikotomi Kanan-Kiri
Sebelum saya mengutarakan pandangan. Sekali lagi, saya bukanlah manusia-manusia yang memiliki kapasitas lebih, ini tidak lebih dari sebuah sudut pandang pragmatisme seorang saya sebagai salah satu dari sekian banyak kaum pemikir "pinggiran". dan masih tetap bukan sebuah komponen kecil dari mesin mekanis birokrasi. ini hanya sekedar opini dari sudut pandang yang mungkin akan banyak antithesis untuk membantah tulisan bukan ilmiah ini. sebelum memulai dikotomi kanan-kiri saya akan menganalogikan sedikit perjalanan pemikiran ideologis saya sebagai seorang yang aktif sebagai pemikir jalanan dalam ruang-ruang yang saya sebut pinggiran. Analoginya begini, ketika kita mengendarai kendaraan di ruas tol yang memiliki banyak marka selalu ada pilihan ruas jalan untuk kita lalui, dan ketika dihadapkan pada lalu lintas yang padat hanya ada satu ruas jalan yang kosong yaitu ruas kiri. diperuntuhkan untuk keadaan darurat, tempat pemberhentian dan tidak diperkenankan melintasi ruas kiri sebagai jalur pokok berkendara. secara aturan dibuat seperti itu meskipun pada prakteknya kita bisa saja untuk melintasinya sesuka hati artinya selalu ada alternativ dalam sebuah sistem. ditulisan sebelumnya saya sudah merepresentasikan pemikiran atas pengendalian diri melalui dikotomi kendali, kali ini akan ada perbedaan objek dalam opini saya.
Konteks pemikiran yang saya alami ketika berada difase puncak idealisme sebagai mahasiswa baru dan pengalaman menelaah banyak opini dari berbagai sumber sudut pandang ideologis dilingkungan sosial kampus membuat daya tarik untuk sekedar mengenal dan observasi ilmu-ilmu baru pada saat itu yang menjadikan problema "intelektual" baru. Baik disadari atau tidak, munculnya problematika keterasingan (kegelisahan) yang bersumber dari problema epistemologi tentang perdebatan kanan-kiri. problema yang muncul menyangkut dimensi relativitas pragmatis dan teoritis dari setiap kerangka pemikiran dari objektivitas sebuah teori tersebut. Atas dasar tersebut dan perjalanan waktu serta pencarian berbagai referensi pendapat akhirnya dipertemukan oleh berbagai asumsi-asumsi yang sedikitnya menjelaskan problematika tersebut.
Secara Epistemologis
Indonesia setidaknya telah dihadapkan pada persoalan hilangnya relevansi diskursus kapitalisme-sosialisme. Peter L Berger, yang sebelumnya cukup ispiratif dalam mengkaji secara kritis, baik "borok-borok" pada kubu sosialisme maupun kubu kapitalisme, akhirnya justru kembali memihak kapitalisme sebagai sistem yang lebih alami dan manusiawi. Dengan begitu maka counter terhadap fenomena kemiskinan, ketimpangan dan penindasan (eksploitasi ekonomi) sebagai konsekuensi dari pilihan pembangunan ekonomi bereciri kapitalisme, yang hanya dapat dilakukan dengan kerangka pemikiran sosialis-kritis, menjadi semakin kehilangan kekuatan dengan hancurnya sosialisme di Eropa Timur. Penolakan terhadap "kapitalisme", yang merupakan sember bentuk ketidakadilan, dengan demikian telah kehilangan alternatif kiblatnya, karena dalam percaturan ekonomi global nyatanya kapitalisme muncul sebagai pemenang. Dalam dataran ilmu-ilmu sosial empiris, pengaruh teori medernisasi yang kemudian mennjadi doktrin, bahkan ideologi pembangunan di negara-negara dunia ke tiga. Mengalami krisis bukan hanya karena counter dari teori-teori perspektif Marxian, tetapi juga karena dekontruksi dari berkembangnya paham postmoderanisme (pos-mo). Sementara modernisasi belum tuntas dalam menjawab berbagai persoalan "pembangunan" yang muncul dari dalam dirinya, sementara itu disaat yang bersamaan post-modernisme memberikan pelecehan intelektual terhadap paradigma modernisme sebagai paradigma yang beciri ahistoris dan mengklaim dirinya paling kekinian.
Maka jelas bahwa dengan pengaruh santernya pemikiran postmodernisme belakangan ini semakin menambah problema dialektika pemikiran kaum pemuda, sebab tema-tema dikotomis semacam kanan-kiri, kapitalisme-sosialisme, telah menjadi kurang relevan atau tidak menjadi barang seksi lagi. Dilema pilihan antara kapitalisme-sosialisme dalam kacamata post-modernisme justru harus ditembus melalui jalan tengah misalnya dengan kapitalisme yang lebih memahami ciri lokalitas dan sejarah masyarakatnya. Dengan demikian problema yang muncul dibenak saya mendapat kesimpulan bagaimana mendapatkan kapitalisme yang melekat secara historis sebuah bangsa yang sesuai dengan sejarah dan karakteristik masyarakat kita. Justru, itu menimbulkan sebuah keresahan baru yang belum menemukan jawabannya.
Comments
Post a Comment