Kebebasan Berpikir
Dengan menggunakan kriteria apapun tentang apa itu intelektual atau kaum pemikir, saya bukanlah salah satu manusia yang memiliki kapasitas . kapasitas saya hanyalah bagian kecil dari seorang "pesuruh" ditengah-tengah masyarakat. Dengan begitu maka tak ada rasa salah (guilty feeling) sedikitpun untuk berapologi bahwa tulisan ini bukanlah sebuah karya yang dalam ukuran akademis disebut sebagai karya "ilmiah". Karena kapasitasnya hanyalah soerang pesuruh, maka mustahil bagi saya untuk dapat menulis secara ilmiah. Lagi pula dalam kehidupan birokrasi yang pragmatik amatlah sulit bagi saya untuk berpikir kompilatif, sebagaimana layaknya para intelektual.
Dalam struktur mesin rekayasa yang disebut birokrasi, keberadaan saya tidaklah bermakna apa-apa, bahkan tidak lebih dari sebuah "sekrup" kecil yang tak berpengaruh dan tak berdaya apa apa ketika berhadapan dengan "mekanisme" birokrasi . Justru sebaliknya dalam ekologi dan kultur birokrasi, saya tidak lagi kebal terhadap kondisi klimatologinya yang pragmatik dan korup. Dalam batas tertentu, birokrasi memang membentuk dan mempengaruhi tingkat kesadaran manusia didalamnya. Begitulah seorang jika memasuki dunia atau tatanan birokrasi, maka mau tidak mau akan hanyut dan tenggelam dalam logika dan cara berpikir yang pragmatik. Bahkan pragmatisme itu kalau perlu dibarengi dengan pengorbanan nilai-nilai moral dan integritsas pribadi.
Pengalaman beberapa tahun menjadi mahasiswa dan aktif dalam kegiatan pemerhati kehidupan birokrasi pemerintah, cukup membuktikan berbagai asumsi dan stereotip negatif bahwa birokrasi di negara berkembang itu cenderung berwatak inefisien, korup, paternalistik, hierarkis, teknokratis dan seterusnya. maka pada hemat saya, cukuplah relevan diskursus mahasiswa, aktivisme dan struktur birokrasi-politik, dan polemik tentang bagaimana sebenarnya posisi dan peran yang ideal bagi kaum mahasiswa, aktivisme dan pemikir, terutama dalam konteks kekuasaan politik dan masyarakat kita saat ini. mungkin ada benarnya, bahwa keterlibatan kaum pemikir/akademis/mahasiswa/aktivis dalam institusi birokrasi, teknokrasi dan bahkan politik secara perlahan namun pasti akan menumpulkan daya kritisme, idealisme, dan objektivitas, bahkan dapat menghancurkan integritas pribadinya. sulit dibayangkan, bagaimana seorang mahasiswa/aktivis/pemikir dan akademis terlibat dalam struktur birokrasi yang berciri "mekanik" itu, dapat mentransendesikan pengalaman sosial, moral dan intelektualnya secara kritis, berhadapan dengan problema kemasyarakatan yang membentang begitu luas.
Karakter dan Posisi pemikir
Dengan menghargai tentang perdebatan konseptual tentang apa itu kaum pemikir dan intelek yang pasti bahwa konsep tersebut tidak mengacu pada suatu ruang hampa, melainkan merujuk pada sekelompok orang tertentu yang hidup dalam masyarakat, bahkan mungkin merujuk kepada diri kita sendiri. karena itu meskipun perdebatan definitif mengenai siapa sesungguhnya konsep pemikir dan intelektual. jadi kaum pemikir dengan nuansa dan pengertian masing-masing lebih tepat jika dipandang sebagai segmen masyarakat, suatu "kaum" yang memiliki ciri dan karakteristik tertentu. untuk mengambil beberapa contoh karakteristik itu, misalnya bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kapasitas berpikir "lebih" dan kapasitas lebih untuk mentransendesikan diri terhadap realitas sosial. ciri-ciri moralis mereka terutama adalah terletak pada komitmen dan tanggung jawab, serta kepedulian yang tinggi terhadap nilai-nilai kebenaran dan humanitas.
Orang-orang semacam itu dalam masyarakat jumlahnya semakin banyak. bahkan dengan bertambahnya jumlah sarjana terlebih sejak orde baru. telah terjadi latarbelakang munculnya diskusi sosiologis, bukan hanya tentang soal kesarjanaan atau tentang pemikiran tetapi juga tentang problema dan perubahan sosial. Terlepas dari pilihan etis bagaimana menempatkan diri kaum pemikir yang paling tepat dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara, kaum pemikir secara ril terpencar dimana mana , baik di sentra kekuatan politik, kelompok agama, birokrasi, perguruan tinggi, bahkan "pinggiran jalanan". dengan kata lain sebagian dari mereka hidup didalam institusi kekuasaan atau hidup dibawah peliharaan pemerintah (negara). kaum pemikir sadar atau tidak telah ditumpangi oleh kepentingan kekuasaan, baik untuk tujuan politis, maupun untuk tujuan yang lebih pragmatis semacam pembangunan. Tetapi sebagian yang lainya hidup berada diluar struktur birokrasi atau di "pinggiran" sebagai penonton atau pengamat masalah-masalah sosial. meskipun keberadaan mereka belum menjadi kekuatan penekanan terhadap struktur kekuasaan, tetapi cukup kritis terhadap persoalan persoalan kemanusiaan, kemasyarakatan, dan pembangunan. justru karena "kegenitan intelektual" merekalah maka lalu muncul kritisme dan menggugat kembali di manakah sesungguhnya letak dan posisi ideal kaum pemikir paling tepat, yang menjamin terpeliharanya ciri moralis dan pilihan etiknya.
Comments
Post a Comment